Pimpinan Pondok Pesantren As’adiyah dari Masa ke Masa

Sejak berdirinya pada tahun 1930, Pengasuh Pondok Pesantren As'adiyah telah mengalami pergantian pimpinan. Berikut Pimpinan As’adiyah dari masa ke masa :

Anre Gurutta (AG) H. M. As’ad. (Dalam masyarakat Bugis dahulu beliau digelar Anre Gurutta Puang Aji Sade’). Beliau merupakan Mahaguru dari Gurutta Ambo Dalle (1900 – 1996), adalah putra Bugis, yang lahir di Mekkah pada hari Senin 12 Rabi’ul Akhir 1326 H/1907 M dari pasangan Syekh H. Abd. Rasyid, seorang ulama asal Bugis yang bermukim di Makkah al-Mukarramah, dengan Hj. St. Saleha binti H. Abd. Rahman yang bergelar Guru Terru al-Bugisiy.

Pada akhir tahun 1347 H/1928 M, dalam usia sekitar 21 tahun. AG H. M. As’ad merasa terpanggil untuk pulang ke tanah leluhur, tanah Bugis, guna menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk tanah Wajo khususnya, dan Sulawesi pada umumnya. Beliau berbekal ilmu pengetahuan agama yang mendalam dan gelora panggilan ilahi, disertai semangat perjuangan yang selalu membara.

Langkah pertama yang dilakukan beliau setelah tiba di kota Sengkang adalah mulai mengadakan pengajian khalaqah di rumah kediamannya. Di samping itu beliau mengadakan da’wah Islamiyah di mana-mana, serta membongkar tempat-tempat penyembahan dan berhala-berhala yang ada disekitar kota Sengkang. Pada tahun pertama gerakan beliau, bersama dengan santri-santri yang berdatangan dari daerah Wajo serta daerah-daerah lainnya, beliau berhasil membongkar lebih kurang 200 tempat penyembahan dan berhala.

Pada tahun 1348 H/1929 M, Petta Arung Matoa Wajo, Andi Oddang, meminta nasehat Anre Gurutta H. M. As’ad tentang pembangunan kembali masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami, yang terletak di tengah-tengah kota Sengkang pada waktu itu. Setelah musyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat Wajo, dicapailah kesepakatan bahwa mesjid yang sudah tua itu perlu dibangun kembali. Pembangunan dimulai pada bulan Rabiul Awal 1348 H/1929 M, dan selesai pada bulan Rabiul Awal 1349/1930 M. Setelah selesai, Masjid Jami itu diserahkan oleh Petta Arung Matoa Wajo Andi Oddang kepada AG H. M. As’ad untuk digunakan sebagai tempat pengajian, pendidikan, dan da’wah Islam. Sejak itulah beliau mendirikan madrasah di Mesjid Jami’ itu, dan diberi nama al-Madrasah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah (MAI) Wajo.

Tingkatan yang beliau bina pada waktu itu adalah: 1. Tahdiriyah 3 tahun, 2. Ibtidaiyah 4 tahun, 3. Tsanawiyah 3 tahun, 4. I’dadiyah 1 tahun, 5. Aliyah 3 tahun.

AG H. M. As’ad berpulang ke rahmatullah pada hari Senin 12 Rabiul Akhir 1372 H/29 Desember 1952 M. dalam usia 45 tahun. Sesuai wasiat beliau, peninggalan beliau dilanjutkan oleh dua murid senior beliau; AG H. Daud Ismail, dan AG H. M. Yunus Martan. Pada 13 Agustus 1999, Presiden RI menganugerahkan Bintang Mahaputra Naraya kepada AG H. M. As’ad.

Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail. Sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan syiar Islam. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya DDI bersama AGH Abdurrahman Ambo Dalle. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir Al-Qur’an 30 juz dalam bahasa Bugis.

Beliau Lahir di Cenrana Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907 M., buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah belajar Al-Qur’an pada orang tuanya. Kemudian melanjutkan ke pesantren-pesantren di Sengkang. Pada tahun 1930 Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anregurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah AGH Abdurrahman Ambo Dalle.

Selama belajar di Sengkang Daud Ismail merasakan banyak kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu agama seperti Ilmu Qawaid, Ilmu Arudh, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq. Salah satu kesan mendalam ketika gurunya mengajarkan ilmu Arudh setelah Shalat Isya hingga larut malam bahkan sampai jam satu malam. Anehnya hanya diajarkan satu malam saja, keesokan harinya langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Sepeninggal Anregurutta As‘ad (1952 M), Anregurutta Daud Ismail diminta datang ke Sengkang melanjutkan pembinaan madrasah. Pada tahun 1953 nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) diubah menjadi Madrasah As‘adiyah. Setelah meninggalkan Sengkang pada tahun 1961, beliau kembali ke Soppeng mendirikan Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) dan membuka Madrasah Muallimin 1967. Tujuan menyusun tafsir Bugis adalah untuk memelihara bahasa Bugis dari kepunahan agar aksara Lontara tidak punah.

Anregurutta Daud Ismail wafat dalam usia 99 tahun pada Senin 21 Agustus 2006 pukul 20.00 WITA di Rumah Sakit Hikmah Makassar. Beliau masih menjabat sebagai Kadhi Soppeng dan Ketua MUI Kabupaten Soppeng 1993-2005.

Anre Gurutta Haji Muhmammad Yunus Martan lahir di Wattang Desa Leppangeng Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo pada hari Jum’at 28 Muharram 1332 H, bertepatan dengan tahun 1914 M, dan beliau meninggal dunia di Makassar pada hari Selasa 22 Juli 1986, setelah menjalani perawatan di rumah sakit Islam Faisal Makassar.

Ayahnya bernama Anregurutta H. Martan, seorang ulama arif dan menguasai ilmu agama Islam, diangkat menjadi qadhi pertama. Beliau menanamkan dasar pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya, terbukti lahir ulama besar AG.H. Muhammad Yunus Martan dan Abdullah Martan, Lc.

AG. H. Muhammad Yunus mengikuti jejak ayahnya. Sejak kecil beliau ikut orang tuanya dan diikut sertakan menunaikan ibadah haji sebelum masuk sekolah rakyat. Menunaikan haji sebanyak tujuh kali. Selama di Makkah mengikuti pendidikan di Madrasah Al-Falah, serta pengajian khalaqah di Masjid Haram.

Tahun 1953 beliau menikah dengan Hajja Baru (H. Karitini) usia 12 tahun. Dikaruniai 7 orang anak yakni Hj. Fatimah, Hj. Faridhah, Prof. Dr. H. Rafii Yunus Martan, MA., Ph.D., Hj. Ruqaiyyah, Hj. Zaenab BA., Dra. Hj. Ummu Kalsum M.Ag., dan Hj. Khusniah, BA. Pada tahun 1965 istri pertama wafat. Kemudian menikah lagi 1966 dengan Hj. Husna (13 tahun) dikaruniai 5 orang anak yaitu Warda, Kafrawi, Nurul Huda, Nur Fadillah dan Iqbal.

AG. H. Abdul Malik lahir pada tahun 1922 M di kampung Timoreng Desa Limporilau Kec. Belawa Kab. Wajo. Wafat 24 Juni 2000 di Makassar dimakamkan di Belawa. Ayahnya H. Muhammad tokoh masyarakat agamis, Ibunya Hj. Muhana perempuan saleh aktif pengajian.

Tahun 1947 menikah dengan Zubaedah saudara AG.KH. Yunus Martan dan putri AGH. Maratan seorang Qadhi. Dikaruniai 6 anak: Hafsah, H. Abd. Muiz, H. Husain, Hj. Maryam, H. Syarifuddin, Drs. H. Muh. Zuhdi. Istri pertama wafat, menikah lagi 1962 dengan Hj. Suwarsiah dikaruniai 10 anak: H. Mizwar, Nurbayati, Anas, Alauddin, Fakhrussalam, Nur Alam, Anwar Sadat, St. Ridha, Afidah, Nurul Kamar.

Belajar mengaji dibawah bimbingan orang tuanya 3 bulan khatam Al-Qur’an. Pendidikan di sekolah Muhammadiyah Belawa 1930-1934. Pada 1935-1941 mengikuti pendidikan MAI Sengkang didirikan AGH Muhammad As’ad. Tahun 1947 berangkat ke Makkah bersama istri Zubaedah menghafal Al-Qur’an 30 Juz dalam 1 tahun lebih di Masjid Haram. Kemudian mengikuti pengajian di pesantren Darul Ulum Addiniyah 1948-1949.

Pengalaman mengajar mulai 1940-1941 di MAI Sengkang masih berstatus santri. Tahun 1941-1947 menjadi kepala sekolah MAI Belawa. Sekembali dari Makkah 1947 diangkat menjadi Qadhi di Belawa. Kiprah politik pernah menjadi ketua anak cabang Masyumi Kec. Belawa 1950-1959, kemudian ketua MWC NU Kec. Belawa 1963-1987, mustasyar NU Kab. Wajo 1988. Terpilih sebagai Ketua Umum PB As’adiyah ke-V hasil Muktamar VIII As’adiyah di Sengkang 14-16 Juni 1988. Memanfaatkan potensi alumni As’adiyah dan memperkuat jaringan luar negeri pemerintah Saudi Arabia dan Universitas Al-Azhar Kairo.

Anregurutta Prof. Dr. H. M. Rafii Yunus Martan, MA mengawali pendidikan di Madrasah Arabiyatul Islamiyah (MAI) Belawa usia 6 tahun tahun 1947 belajar kitab kuning dan Bahasa Arab dari Ayahanda Gurutta Yunus Martan sedangkan menghafal Al-Qur’an dibina langsung AGH Abdul Malik Muhammad.

Tamat MAI Belawa 1953 hijrah ke Sengkang mengikuti Ayahanda karena permintaan AGH Daud Ismail. Melanjutkan Madrasah Aliyah MAI tidak tamat, hijrah ke Makassar SMA Negeri 1 Unggulan Makassar tamat 1960. Melanjutkan di Fakultas Sastra UNHAS hingga tahun ke 3 sempat sakit dirawat 2 bulan. Tidak sempat menyelesaikan studi karena tidak mendapat respon positif.

Berkat info dari Prof. Dr. H.A. Rahman Musa yang baru selesai studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogya bahwa kampus membuka pendaftaran, beliau berangkat ke Yogya terdaftar sebagai mahasiswa Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga 1964, BA 1968, Drs 1971. Setelah itu kembali ke Sengkang mengabdi di As’adiyah memberikan pengajian Bahasa Bugis di Masjid Agung Ummul Quraa serta guru honorer Madrasah Aliyah 1971-1973.

Melanjutkan S2 Institute Of Islamic Studies McGill University Montreal Canada Jurusan Studi Keislaman Teologi Islam tamat 1976, kemudian S3 Department of Near Eastern Studies University of Michigan Ann Arbor USA Jurusan Ulumul Qur’an lulus 1994. Sejak 1976 menjadi dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar hingga 2007. Jabatan: Sekretaris Fakultas Ushuluddin 1979-1980, Wakil Dekan 1980-1986, Ketua Jurusan Perbandingan Agama 1981-1986, Ketua Jurusan Tafsir Hadits 1994-1996, Asdir I Bidang Akademik PPS IAIN Alauddin 1995-2003, Guru Besar Ulumul Qur’an 2002-2006. Aktif dosen S2 S3 PPS IAIN Alauddin dari 1994.

Alumni Pondok Pesantren As'adiyah, Ibtidaiyah 6 tahun lulus 1971, PGA 4 Tahun 1974 dan PGA 6 Tahun 1976. Saat ini dipercayakan sebagai Menteri Agama RI, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan Rektor Institut PTIQ Jakarta. Sebelumnya Wakil Menteri Agama RI 2011-2014. Anggota Tim Penasihat Inggris Indonesia yang didirikan mantan PM Inggris Tony Blair.

Profil singkat AG. K.H. Hamza Badawi, AG. K.H. Abd Rahman Musa, dan AG. K.H. Muhammad Sagena merupakan pimpinan As’adiyah yang melanjutkan estafet perjuangan dakwah dan pendidikan pesantren As’adiyah di masa transisi. Ketiganya dikenal sebagai ulama kharismatik dengan pengabdian tinggi di bidang pendidikan dan kemasyarakatan.